Selasa, 26 Maret 2013

Model Pembelajaran CTL



MODEL PEMBELAJARAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL)



A.  Pendahuluan
Salah strategi pembelajaran yang dikembangkan dengan tujuan agar pembelajaran berjalan dengan produktif dan bermakna bagi siswa adalah strategi pembelajaran kontekstual (Contextual Teachig and Learning) yang selanjutnya disebut dengan CTL. Strategi CTL focus pada siswa sebagai pembelajar yang aktif, dan memberikan rentang yang luas tentang peluang-peluang belajar bagi mereka yang menggunakan kemampuan-kemampuan akademik mereka untuk memcahkan masalah-masalah kehidupan nyata yang kompleks.
Kenyataan menunjukkan bahwa sebagian besar tidak mampu menghubungkan antara materi yang mereka pelajari denan pemanfaatannya dalam kehidupan nyata. Pemhaman konsep akademik yang dimiliki siswa hanyalah merupakan sesuatu yang abstrak, belum menyentuh kebutuhan praktis kehidupan siswa. Pembelajaran secara konvensional yang diterima siswa hanyalah penonjolan tingkat hafalan dan sekian macam topik, tetapi belum diikuti dengan pengertian dan pemahaman yang mendalam yang bisa diterapkan ketika mereka berhadapan dengan situasi baru dalam kehidupannya.

B.  Pengertian Pembelajaran Kontekstual
Akhir-akhir ini pembelajaran kontekstual (Contextual teaching and learning - CTL) merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang banyak dibicarakan orang. CTL merupakan strategi yang melibatkan siswa secara penuh dalam proses pembelajaran. Siswa didorong untuk beraktivitas mempelajari materi pelajaran sesuai dengan topic yang dipelajarinya. Belajar dalam koteks CTL bukan hanya sekedar mendengarkan dan mencatat, tetapi belajar adalah proses berpengalaman secara langsung. Berikut akan penulis jelaskan tentang pengertian pembelajaran kontekstual (Contextual teaching and learning).
Menurut Mitri Irianti dan Almasdi Ayahza menyetakan:
“Terkait dengan CTL ini, para ahli menyebutnya dengan istilah yang berbeda-beda, seperti pendekatan pembelajaran kontekstual, strategi pembelajaran kontekstual, dan model pembelajaran kontekstual. Apapun istilah yang digunakan para ahli tersebut, pada dsarnya kontekstual berasal dari bahasa inggris “Contextual” yang berarti sesuatu yang berhubungan dengan konteks. Oleh sebab itu pembelajaran kontekstual merupakan konsep pembelajran yang mana guru menggunakan pengalaman siswa yang pernah dilihat atau dilakukan dalam kehidupannya sebagai sumber pendukung”.[1]

Sedangkan pembelajaran kontekstual (Contextual teaching and learning-CTL) menurut Nurhadi dalam Sugiyanto adalah “konsep belajar yang mendorong guru untuk menghubungkan antara materi yang diajarkan dan situasi dunia nyata siswa”.[2] Dan juga mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliknya dan penerapannya dalam kehidupan mereka sendiri-sendiri. Pengetahuan dan keterampilan siswa diperoleh dari usaha siswa mengkonstruksikan sendiri pengetahuan dan keterampilan baru ketika ia belajar. Sedangakn menurut Johnson masih dalam Sugiyanto,
“CTL adalah sebuah proses pendidika yang bertujuan menolong para siswa melihat makna di dalam materi akademik yang mereka pelajari dengan cara menghubungkan subyek-subyek akademik dengan konteks keadaan pribadi, social, dan budaya mereka. Untuk mencapai tujuan ini, system tersebut meliputi tujuh komponen berikut: membuat keterkaitan yang bermakna, melakukan pekerjaan yang berarti, melakukan pembelajaran yang diatur sendiri, melakukan kerja sama, membantu individu untk tumbuh dan berkembang, berpikir kritis dan kreatif untuk mencapai standar yang tingga dan menggunakan penilaian autentik”.[3]

Jadi, pembelajaran melalui konteks (contextual teaching and learning) ini diharapkan siswa dapat menemukan sendiri materi yang dipelajarinya bukan hanya sekedar mendengarkan dan mencatat, tetapi belajar berpengalaman secara langsung.

C.    Konsep Dasar Strategi Pembelajaran Kontekstual
CTL merupakan proses pembelajaran yang bertujuan membantu siswa untuk memahami makna materi ajar dengan mengaitkannya terhadap konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial dan kultur), sehingga siswa memiliki pengetahuan/keterampilan yang dinamis dan fleksibel untuk mengkontruksikan sendiri secara aktif pemahamannya.
Ada tiga konsep dasar dalam pembelajaran kontekstual menurut Wina sanjaya yakni:
1.      CTL menekankan kepada proses keterlibtan siswa untuk menemukan materi, artinya proses belajar diorientasikan pada proses pengalaman secara langsung.
2.      CTL mendorong agar siswa dapat menemukan hubungan anatara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata, artinya siswa dituntut untuk menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata.
3.      CTL mendorong siswa untuk dapat menerapaknnya dalam kehidupan, artinya CTL bukan hanya mengharapkan siswa dapat memahami materi yang dipelajarinya, akan tetapi bagaimana materi pelajaran itu dapat mewarnai perilakunya dalam kehidupan sehari-hari.[4]

Sedangkan menurut Johnson dalam Sugiyanto menyebutkan bahwa tiga dasar teori dalam system pembelajaran CTL, yaitu:
1.      CTL mencerminkan prinsip kesaling-bergantungan.
2.      CTL mencerminkan prinsip diferensiasi.
3.      CTL mencerminkan prinsip pengorganisasian diri.[5]

D.  Latar Belakang Filosofis CTL
CTL bayak dipengaruhi oleh filsafat konstruktivisme yang mulai digagas oleh Mark Baldwin dan selanjutna dikembangkan oleh Jean Piaget. Aliran filsafat konstruktivisme berangkat dari pemikiran epistimolgi Giambatista Vico. Vico mengungkapkan dalam Wina Sanjaya, ”Tuhan adalah pencipta alam semesta dan manusia adalah ciptaannya.”[6] Mengetahui menurut vico, berarti mengetahui membuat sesuatu. Artinya, seseorang dikatakan mengetahui manakala ia dapat menjelaskan unsur-unsur apa yang membangun sesuatu itu.
Sedangkan menurut sugiyanto landasan filosofi CTL adalah kontruktivisme, yaitu ”filosofi belajar yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekedar menghafal”[7]. Jadi siswa harus mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri, bahwa pengetahuan tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi fakta. Fakta atau proposisi yang terpisah, tetapi mencerminkan keterampilan yang dapat diterapkan.
Denngan pendekata kontekstual (CTL) proses pembelajaran diharapakan berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa untuk bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan dari pada hasil. Dalam konteks itu siswa perlu mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya, mereka dalam status apa dan bagaimana mencapainya. Mereka akan menyadari bahwa yang mereka pelajari berguna bagi hidupnya. Dengan demikian mereka memposisikan dirinya yang memerlukan suatu bekal untuk hidupnya nanti.

E.  Komponen Model Pembelajaran CTL
Sesuai dengan asumsi yang mendasarinya, bahwa pengetahuan itu diperoleh anak bukan dari informasi yang diberikan oleh orang lain termasuk guru, akan tetapi dari proses menemukan dan mengkonstruksikannya sendiri, maka guru harus menghindari mengajar sebagai proses penyampaian informasi. Guru perlu memandang siswa sebagai subjek belajar dengan segala keunikannya. Siswa adalah organisme yang aktif yang memiliki potensi untuk membangun pengetahuannya sendiri.
Pembelajaran berbasis CTL menurut sanjaya dalam Sugiyanto melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran, yakni: ”Konstruktivisme (Construkivism), bertanya (questioning), menemukan (Inquiry), masyrakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), dan penilaian sebenarnya (authentic assessment)”.[8]
1.  Konstruktivisme
Konstruktivisme adalah proses membangun dan menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman. Menurut konstruktivisme, pengetahuan memang berasal dari luar tetapi dikonstruksi oleh dalam diri seseorang. Pengetahuan bukanlah serangkain fakta, konsep dan kaidah yang dipraktekkan, melainkan harus dikonstruksi terlebih dahulu dan memberikan makna melalui pengalaman nyata. Karena itu siswa perlu dibiasakan untk memcahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan mengembangkan ide-ide yang ada pada dirinya.
Menurut Mitri Irianti dan Almasdi Ayahza prinsip konstruktivisme yang harus dimiliki guru adalah sebagai berikut:
a.       Proses pembelajaran lebih utama dari pada hasil pembelajaran
b.      Informasi bermakna dan relevan dengan kehidupan nyata siswa lebih penting dari pada informasi verbalitas
c.       Siswa mendapatkan kesempatan seluas-luasnya untuk menemukan dan menerapkan idenya sendiri
d.      Siswa diberikan kebebasan untk menrapkan strateginya sendiri dalam belajar
e.       Pengetahuan siswa tumbuh dan berkembang melalui pengalaman sendiri
f.       Pengalaman siswa akan berkembang semakin dalam dan semakin kuat apabila diuji dengan pengalaman baru
g.      Pengalaman siswa bisa dibangun secara asimilasi, maupun akomodasi.[9]

  1. Inkuiri
Inkuiri, artinya proses pembelajaran didasrkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berfikir secara sistematis. Secara umum proses inkuiri dapat dilakukan melalui beberapa langkah, yaitu:
a.       Merumuskan maslah
b.      Mengajukan Hipotesa
c.       Mengumpulkan data
d.      Menguji Hipotesis
e.       Membuat kesimpulan
Penerapan asas inkuiri pada CTL dimulai dengan adanya masalah yang jelas yang ingin dipecahkan, dengan cara mendorong siswa untuk menemukan masalah samapai merumuskan kesimpulan. Asas menemukan dan berfikir sistematis akan dapat menumbuhkan sikap ilmiah, rasional, sebagai dasar pembentukan kreatifitas.

3.  Bertanya
Komponen ini merupakan strategi pembelajaran CTL. Bertanya dalam pembelajaran CTL dipandang sebagai upaya guru yang bisa mendorong siswa untuk mengetahui sesuatu, mengarahkan siswa untuk memperoleh informasi, sekaligus mengetahui perkembangan kemampuan berfikir siswa. Pada sisi lain, kenyataan menunjukkan bahwa pemerolehan pengetahuan seseorang bermula dari bertanya. Prinsip yang perlu diperhatikan guru dalam pembelajaran berkaitan dengan komponen bertanya sebaga berikut:
a.       Penggalian informasi lebih efektif apabila dilakuakan melalui bertanya
b.      Konfirmasi terhadap apa yang sudah diketahui siswa lebih efektif melalui tanya jawab
c.       Dalam rangka penambahan atau pemantapan pemahaman lebih efektif dilakukan lewat diskusi baik kelompok maupun kelas
d.      Bagi guru, bertanya kepada siswa bisa mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berfikir siswa
e.       Dalam pembelajaran yang produktif kegiatan bertanya berguna untuk menggali informasi, mengecek pemahaman siswa, mengetahui hal-hal yang diketahui siswa, memfokuskan perhatian siswa sesuai dengan yang dikehendaki guru, membangkitkan lebih banyak pertanyaan bagi diri siswa.
4.  Pemodelan
Pemodelan (modeling) adalah proses pembelajaran dengan memperagakan suatu contoh yang dapat ditiru oleh siswa. Sebagai contoh, membaca berita, membaca lafal bahasa, bagaimana cara melempar bola, guru kesenian memberi contoh bagaimana cara memainkan alat musik, dan lain-lain. Proses modeling tidak terbatas dari guru saja, akan tetapi dapat juga memanfaatkan siswa yang dianggap memiliki kemampuan.
5.  Refleksi
Refleksi adalah proses pengendapan pengalaman yang telah dipelajari yang dilakukan dengan cara mengurutkan kembali kejadian-kejadian atau peristiwa pembelajaran yang telah dilaluinya. Melalui proses refleksi, pengalaman belajar itu akan dimasukkan dalam struktur kognitif siswa yang pada akhirnya akan menjadi bagian dari pengetahuan yang dimilikinya.
6.  Penilaian Nyata
Penilaian nyata adalah proses yang dilakukan guru untuk mengumpulkan informasi tentang perkembangan belajar yang dilakukan siswa. Penilaian ini diperlukan untuk mengetahui apakah siswa benar-benar belajar atau tidak, apakah pengalaman belajar siswa memiliki pengaruh yang positif terhadap perkembangan baik intelektual maupun mental siswa. Penilaian ini dilakukan secara terus-menurus selama kegiatan pembelajaran berlangsung.

7.  Masyarakat Belajar
Masyarakat belajar didasarkan pada pendapat Vygotsky seorang psikolog asal Rusia, ”bahwa pengetahuan dan pengalaman anak banyak dibentuk oleh komunikasi dengan orang lain.”[10] Permasalahan tidak mungkin dipecahkan sendirian, tetapi membutuhkan bentuan orang lain untk saling membutuhkan. Dalam model CTL hasil belajar dapat diperoleh dari hasil sharing dengan orang lain, teman, antar kelompok, sumber lain dan bukan hanya guru.

F.  Langkah-Langkah Pembelajaran CTL
Secara sederhana langkah-langkah penerapan CTL dalam kelas secara garis besar adalah sebagai berikut:
1.      Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sediri, menemukan sendiri, dan meng-konstruksikan sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.
2.      Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik
3.      Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya
4.      Ciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelompok-kelompok)
5.      Hadirkan model dalam pembelajaran
6.      lakukan refleksi di akhir penemuan
7.      lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara

G.  Ciri Kelas Yang Menggunakan Pendekata Kontekstual (CTL)
1. Pengalaman nyata
2. kerja sama, saling menunjang
3. gembira
4. pembelajaran terintegrasi
5. menggunakan berbagai sumber
6. siswa aktif dan kritis
7. menyenangkan, tidak membosankan
8. sharing dengan teman
9. guru kreatif

H.  Perbedaan Pembelajaran Kooperatif dengan Pembelajaran Tradisional
Dalam pembelajaran tradisional dikenal pola belajar kelompok, meskipun demikian, ada sejumlah perbedaan esensial antara kelompok belajar kooperatif dengan kelompok belajar tradisional/konvensional.

Kelompok Belajar Kooperatif
Kelompok Belajar Tradisional
CTL menempatkan siswa sebagai subjek belajar, artinya siswa berperan aktif dalam setiap proses pembelajaran dengan cara menemukan dan menggali sendiri materi pelajaran
Siswa ditempatkan sebagai objek belajar yang berperan sebagai penerima informasi secara pasif
Siswa belajar melalui kegiatan kelompok, seperti kerja kelompok, berdiskusi, saling menerima dan memberi.
Siswa lebih banyak belajar secara individual dengan menerima, mencatat, dan menghafal materi pelajara.
Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata secara riil
Pembelajaran bersifat teoritis dan abstrak
Kemampuan didasarkan atas pengalaman
Kemampuan diperoleh melalui latihan-latihan
Tujuan akhir dari proses pembelajaran CTL adalah kepuasan diri
Tujuan akhir adalah nilai atau angka
Tindakan atau perilaku dibangun atas kesadaran diri sendiri
Tindakan atau perilaku individu didasarkan oleh faktor dari luar dirinya
Pembelajaran bisa terjadi dimana saja dalam konteks dan setting yang berbeda sesuai dengan kebutuhan
Pembelajaran hanya terjadi di dalam kelas
Keberhasilan pembelajarab diukur dengan berbagai cara, misalnya dengan evaluasi proses, hasil karya siswa, penampilan, rekaman, observasi, wawancara dan lain-lain.
Keberhasilan pembelajaran biasanya hanya diukur dari tes.
Kesimpulan

CTL merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Di dalam CTL terdapat beberapa karakteristik yang perlu diperhatikan ketika seorang pendidi akan membrikan makna dalam pembelajarannya, yaitu: kerjasama, saling menunjang, menyenangkan, tidak membosankan, belajar dengan bergairah, pembelajaran integrasi, menggunakan berbagai sumber, siswa aktif, sharing dengan teman, siswa harus kritis, dan guru harus kreatif.
CTL dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang apa saja, dan kelas yang bagaimana keadaannya. Dengan demikian CTL merupakan suatu model pembelajaran yang dapat dengan mudah diaplikasikan oleh peserta didik.




















Daftar Pustaka


Irianti. Mitri, dan Syahza. Almasdi,Pemebelajaran Kontekstual, [Online], Available:http://almasdi.unri.ac.id//index.php?option=com-conten artiel &id 68:berita-6&catid=25:the-project

Sanjaya. Wina, 2007. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Jakarta: Kencana Prenada Media Group

Sugiyanto, 2009. Model-Model Pembelajaran Inovatif, Surakarta: Yuma Pressindo





[1] Dra. Mitri Irianti, MSI dan Prof. Dr. Almasdi Syahza SE., MP,Pemebelajaran Kontekstual, [Online], Available:http://almasdi.unri.ac.id//index.php?option=com-conten artiel &id 68:berita-6&catid=25:the-project
[2] Sugiyanto, Model-Model Pembelajaran Inovatif, (Kadipiro Surakarta: Yuma Pressindo, 2009), hlm. 14
[3]  Ibid., hlm. 14
[4] Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2007), hlm. 253-254
[5] Op.,Cit, hlm. 16
[6] Op.,Cit, hlm. 255
[7] Op.,Cit, hlm. 16
[8] Ibid., hlm. 17
[9] Mitri Irianti dan Almasdi Syahza, Op.,Cit, hlm. 2
[10] Op.,Cit, hlm. 18 ,

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar